Pendekatan realitas dikembangkan oleh William Glasser, seorang psikolog dari California. Dalam pendekatan ini, konselor bertindak aktif, direktif, dan didaktif. Dalam konteks ini, konselor berperan sebagai guru dan sebagai model bagi konseli. Di samping itu, konselor juga membuat kontrak dengan konseli untuk mengubah perilakunya. Cirri yang sangat khas dari pendekatan ini adalah tidak terpaku pada kejadian-kejadian di masa lalu, tetapi lebih mendorong konseli untuk menghadapi realitas. Pendekatan ini juga tidak member perhatian pada motif-motif bawah sadar sebagimana pandangan kaum psikoanalis. Akan tetapi, lebih menekankan pada pengubahan tingkah laku yang lebih bertanggung jawab dengan merencanakan dan melakukan tindakan-tindakan tersebut.
Konsep - konsep utama
Pandangan tentang sifat manusia Terapi realitas berdasarkan premis bahwa ada suatu kebutuhan psiko logis tunggal yang hadir sepanjang hidup, yaitu kebutuhan akan identitas yang mencakup suatu kebutuhan untuk merasakan keunikan, keterpisahan, dan ketersendirian. Kebutuhan akan identitas menyebabkan dinamika-dinamika tingkah laku, dipandang sebagai universal pada suatu kebudayaan. Menurut terapi realitas, akan sangat berguna apabila menganggap identitas dalam pengertian “identitas keberhasilan” lawan “identitas kegagalan”. Dalam pembentukan identitas, masing-masing dari kita mengembangkan keterlibatan-keterlibatan dengan orang lain dan dengan bayangan diri, yang dengannya kita merasa relative berhasil atau tidak berhasil. Orang main memainkan peranan yang berarti dalam membantu kita menjelaskan dan memahami identitas kita sendiri. Cinta dan penerima berkaitan langsung dengan pembentukan identitas. Menurut Glasser (1965, hlm.9), basisi dari terapi realitas adalah membantu para klien dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar psikologisnya, yang mencakup “kebutuhan untuk mencintai dan dicintai serta kebutuhan untuk merasakan bahwa kita berguna baik bagi diri kita sendiri maupun bagi orang lain”. Maka jelaslah bahwa terpi realitas tidak berpijak pada filsafat deterministic tentang manusia, tetapi dibangun diatas asumsi bahwa manusia adalah agen yag menentukan dirinya sendiri. Prinsip ini menyiratkan bahwa masing-masing orang memikul tanggung jawab untuk menerima konsekuensi-konsekuensi dari tingkah lakunya sendiri.
Ciri-ciri Terapi Realitas
Sekurang-kurangnya ada delapan cirri yang mnentukan terapi realitas adalah sebagai berikut:1. Terapi realitas menolak konsep tentang penyakit mental. Ia berasumsi bahwa bentuk-bentuk angguan tingkah laku yang spesifik adalah akibat dari ketidakbertanggungjawaban. Pendekatan ini tidak berurusan dengan diagnosis-diagnosis psikologis. Ia mempersamakan gangguan mental dengan tingkah laku yang tidak beranggung jawab dan mempersamakan kesehatan mental dengan tingkah laku yang bertanggung jawab.2. Terapi realitas berfokus pada tingkah laku sekarang alih-alih pada perasan-perasaan dan sikap-sikap. Meskipun tidak menganggap perasaan-perasaan dan sikap-sikap itu tidak penting, terapi realitas menekankan kesadaran atas segala tingkah laku sekarang. Terapis realitas juga tidak bergantung pada pemahaman untuk mengubah sikap-sikap, tertapi menekankan bahwa perubahan sikap mengikuti perubahan tingkah laku.3. Terapi realitas berfokus pada saat sekarang, bukan kepada masa lampau. Karena masa lampau seseorang itu telah tetap dan tidak bisa diubah, maka yang bisa diubah hanyalah saat sekarang dan masa yang akan datang. Kalaupun didiskusikan dalam terapi, masa lampau selalu dikaitkan dengan tingkah lalu klien sekarang. Terapis terbuka untuk mengeksplorasi segenap aspek dari kehidupan klien sekarang , mencakup harapan-harapan, ketakutan-ketakutan, dan nilai-nilainya. Terapi menekankan kekutan-kekuatan, potensi-potensi, keberhasilan-keberhasilan, dak kulitas-kulitas yang positif dari klien, dan itdak hanya memperhatikan kemalangan dan gejala-gejalanya.4. Terapi realitas menekankan perimbangan-pertimbangan nilai. Terapi realitas menempatkan pokok pertimbangan pada peran klien dalam menilai kualitas tingkah lakunya sendiri dalam menentukan apa yang membantu kegagalan yang dialaminya. Terapi ini beranggapan bahwa perubahan mustahil terjadi tanpa melihat pada tingkah laku dan membuat beberapa ketentuan mengenai sifat-sifat konstruktif dan destruktif.5. Terapi realitas tidak menekankan transferensi. Ia tidak memanadang konsep tradisional tentang transferensi sebagai hal yang penting. Iya memandang transferensi sebagai suatu cara bagi terapis untuk tetap bersembunyi sebagai pribadi. Terapi realitas mengimbau agar para terapis menempuh cara beradanya yang sejati, yakni bahwa mereka menjadi diri sendiri, tidak memainkan peran sebagai ayah atau ibu klien.6. Terapi realitas menekankan aspek-aspek kesadaran, bukan aspek-aspek ketaksadaran. Teori psikoanalitik, yang berasumsi bahwa pemahaman dan kesadaran atas proses-proses ketaksadaran sebagai suatu prasyarat bahi perubahan kepribadian, menekankan pengungkapan konflik-konflik tak sadar melalu teknik-teknik seperti analisis resistensi.7. Terapi realitas menghapus hukuman. Glasser mengingatkan bahwa pemberian hukuman guna mengubah tingkah laku tidak efektif dan bahwa hukuman untuk kegagalan melaksanakan rencana-rencana mengakibatkan perkuatan identitas kegagalan pada klien dan perusakan hubungan terapeutik. Ia menentang penggunaan pernyataan-pernyataan yang mencela karena pernyataan-pernyataan semacam itu merupakan hukuman.8. Terapi realitas menekankan tanggung jawab. Didefinisikan sebagai kemampuan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan sendiri dan melakukannya dengancara tidak mengurangi kemampuan orang lain dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka. Belajar tanggung jawab adalah proses seumur hidup. Meskipun semua memiliki kebutuhan untuk mencintai dan dicintai serta kebutuhan untuk memiliki rasa berguna, kita tidak memiliki kemampuan bawaan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan itu.
Tujuan Terapi Realitas
Sama dengan kebanyakan psikoterapi, tujuan umum terapi realitas adalah membantu seseorang untuk mencapai otonomi. Pada dasarnya, otonomi adalah kematangan yang diperlukan bagi kemampuan seseorang untuk mengganti dukungan lingkungan dengan dukungan internal. Kemampuan ini meyiratkan bahwa orang-orang mampu bertanggung jawab atas siapa mereka dan ingin menjadi apa mereka serta mengembangkan rencana-rencana yang bertanggung jawab dan realistis guna mencapai tujuan-tujuan mereka.Glasser dan Zunin sepakat bahwa terapis harus memiliki tujuan-tujuan tertentu bagi klien dalam pikirannya. Akan tetapi, tujuan ini harus diungkapkan dari segi konsep tanggung jawab individual dan dari segi tujuan-tujuan behavioral karena klien harus menentukan tujuan-tujuan itu bagi dirinya sendiri. Mereka menekankan bahwa kriteria psikoterapi yang berhasil sangat bergantung pada tujuan-tujuan yang ditentukan oleh klien.
- Menolong individu agar mampu mengurus diri sendiri, supaya dapat menentukan dan melaksanakan perilaku dalam bentuk nyata.
- Mendorong konseli agar berani bertanggung jawab serta memikul segala resiko yang ada, sesuai dengan kemampuan dan keinginannya dalam perkembangan dan pertumbuhannya.
- Mengembangkan rencana-rencana nyata dan realistik dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
- Perilaku yang sukses dapat dihubungkan dengan pencapaian kepribadian yang sukses, yang dicapai dengan menanamkan nilai-nilai adanya keinginan individu untuk mengubahnya sendiri.
- Terapi ditekankan pada disiplin dan tanggung jawab atas kesadaran sendiri.
E. Proses-proses konseling
Proses Konseling Pendekatan ini melihat konseling sebagai proses rasional yang menekankan pada perilaku sekarang dan saat ini. Artinya, konseli ditekankan untuk melihat perilakunya yang dapat diamati dari pada motif-motif bawah sadarnya. Dengan demikian konseli dapat mengevaluasi apakah perilakunya teresebut cukup efektif dalam memenuhi kebutuhannya atau tidak. Jika dirasa. Menurut Glasser, hal-hal yang membawa perubahan sikap dari penolakan ke penerimaan realitas yang terjadi selama proses konsleing adalah (Corey, 1991:533-536):
Proses Konseling Pendekatan ini melihat konseling sebagai proses rasional yang menekankan pada perilaku sekarang dan saat ini. Artinya, konseli ditekankan untuk melihat perilakunya yang dapat diamati dari pada motif-motif bawah sadarnya. Dengan demikian konseli dapat mengevaluasi apakah perilakunya teresebut cukup efektif dalam memenuhi kebutuhannya atau tidak. Jika dirasa. Menurut Glasser, hal-hal yang membawa perubahan sikap dari penolakan ke penerimaan realitas yang terjadi selama proses konsleing adalah (Corey, 1991:533-536):
1. Konseling dapat mengekplorasi keinginan, kebutuhan, dan apa yang di persepsikan tentang kondisi yang dihadapinya. Di sini konseli terdorong untuk mengenali dan mendefinisikan apa yang mereka inginkan untuk memenuhi kebutuhannya. Setelah mengetahui apa yang diinginkan, konseli mengevaluasi apakan yang ia lakukan selama ini memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut.
2. Konseling focus pada perilaku sekarang tanpa terpaku pada permasalahan masa lalu. Tahap ini merupakan kesadaran konseli untuk memahami bahwa kondisi yang dialamainya bukanlah hal yang bisa dipungkiri. Kemudian mereka mulai menentukan alternative apa saja yang harus dilakukan. Di sini konseli mengubah perilaku totalnya, tidak hanya sikap dan perasaan, namun yang diutamakan aldah tndakan dan pikiran.
3. Konseling mau mengevaluasi perilakunya, merupakan kondisi di mana konseli membuat penilaian tentang apa yang telah ia lakukan terhadap dirinya berdasarkan system nilai yang berlaku di masyarakat. Apakah yang dilakukan dapat menolong dirinya atau sebaliknya, apakah hal itu bermanfaat, sudakah sesuai dengan aturan, dan apakah realistis atau dapat dicapai. Mereka menilai kualitas perilakunya, sebab tanpa penilaian pada diri sendiri, perubahan akan sulit terjadi. Evaluasi mencakup seluruh komponen perilaku total.
4. Konseling mulai menetapkan perubahan yang dikehendakinya dan komitmen terhadap apa yang telah direncanakan. Rencana-rencana yang ditetapkan harus sesuai dengan kemampuan konseli, bersifat konkrit atau jelas pada bagian mana dari perilakunya yang akan diubah, realistis dan melibatkan perbuatan positif. Rencana itu juga harus dilakukan dengan segera dan berulang-ulang.
Daftar Pustaka
Corey, Gerald. (2010). Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi. Bandung: PT Refika Aditama
Komalasari, Gantina., Wahyuni, Eka., Karsih. (2011). Teori dan Teknik Konseling. Jakarta: PT Indeks