Kamis, 25 Desember 2014

TUGAS SOFTSKILL



PENGARUH STRES KERJA DAN MOTIVASI KERJA
TERHADAP KINERJA KARYAWAN
PT. PERKEBUNAN MINANGA OGAN BATURAJA


 

DISUSUN OLEH
KELOMPOK :

                                                                Yenti Astuti                 : 175112804
                                                         Fanni Juliyani             : 12512750
                                                               Revina Astrid G.W     : 16512171
                                                               Lulu Yolanda Syifa      : 14512271
                                                              Rini Tri Andriani         : 16512827
                                                       Sanny Marsheila         : 16512414


BAB I
PENDAHULUAN

      A. Latar Belakang
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat pesat, membawa perubahan dalam kehidupan manusia. Perubahan-perubahan itu mengakibatkan tuntutan yang lebih tinggi terhadap setiap individu untuk lebih meningkatkan kinerja mereka sendiri. Adanya perkembangan tersebut, mengakibatkan karyawan harus mengubah poladan sistem kerjanya sesuai dengan tuntutan yang ada sekarang. Dalam kehidupan modern yang makin kompleks, manusia akan cenderung mengalami stres apabila ia kurang mampu mengadaptasikan keinginan dengan kenyataan yang ada, baik kenyataan yang ada didalam maupun diluar dirinya. Segala macam bentuk stres pada dasarnya disebabkan oleh kekurang mengertian manusia akan keterbatasannya sendiri.
            Ketidakmampuan untuk melawan keterbatasan inilah yang akan menimbulkan frustrasi, konflik, gelisah, dan rasa bersalah yang merupakan tipe-tipe dasar stres (Luthan, 2006: 439). Akibat-akibat stres terhadap seseorang dapat bermacam-macam dan hal ini tergantung pada kekuatan konsep dirinya yang akhirnya menentukan besar kecilnya toleransi orang tersebut terhadap stres. Stres yang dialami oleh karyawan akibat lingkungan yang dihadapinya akan mempengaruhi kinerja dan kepuasan kerjanya, sehingga manajemen perlu untuk meningkatkan mutu lingkungan organisasional bagi karyawan. Dengan menurunnya stres yang dialami karyawan tentu akan meningkatkan kesehatan dalam tubuh organisasi. Stres merupakan sebuah kondisi dimana seseorang dihadapkan pada konfrontasi antara kesempatan, hambatan, atau permintaan akan apa yang dia inginkan dan hasilnya dipersepsikan tidak pasti dan penting.
            Dari beberapa penomena yang terjadi pada PT. Perkebunan Minanga Ogan Baturaja, hal yang berpengaruh bagi karyawan sehingga mengalami stres adalah konflik kerja, beban kerja, waktu kerja, karakteristik tugas, dukungan kelompok dan pengaruh kepemimpinan, dimana apabila pimpinan dapat bersikap bijak dan mendengarkan aspirasi dari karyawan kemungkinan karyawan yang mengalami stres dalam bekerja akan sedikit berkurang, walaupun ada faktor eksternal yang lain juga mempengaruhi stres karyawan. Hal ini pula yang membuat karyawan menjadi kurangermotivasi dalam pekerjaannya, dan pada akhirnya ada berapa karyawan yang mengundurkan diri dari pekerjaannya karena tidak sesuai dengan apa yang karyawan tersebut harapkan dari kebijakan yang ditetapkan oleh pimpinan perusahaan. Oleh karena itu, peneliti disini tertarik ingin melakukan penelitian mengenai Pengaruh Stres Kerja dan Motivasi Kerja Terhadap Kinerja Karyawan PT. Perkebunan Minanga Ogan Baturaja”.

 B. Rumusan Masalah

1. Seberapa besar Stres Kerja dan Motivasi Kerja berpengaruh secara parsial   terhadap Kinerja Karyawan PT. Perkebunan Minanga Ogan Baturaja?

2. Seberapa besar Stres Kerja dan Motivasi Kerja berpengaruh secara simultan terhadap Kinerja Karyawan PT. Perkebunan Minanga Ogan Baturaja?
3. Variabel mana yang lebih berpengaruh antara Stres Kerja dan Motivasi Kerja terhadap Kinerja Karyawan PT. Perkebunan Minanga Ogan Baturaja?

 C. Tujuan Penelitian

1. Mengetahui seberapa besar Stres Kerja dan Motivasi Kerja berpengaruh secara parsial terhadap Kinerja Karyawan PT. Perkebunan Minanga Ogan Baturaja?
2. Mengetahui seberapa besar Stres Kerja dan Motivasi Kerja berpengaruh secara simultan terhadap Kinerja Karyawan PT. Perkebunan Minanga Ogan Baturaja?
3. Mengetahui variabel mana yang lebih berpengaruh antara Stres Kerja dan Motivasi Kerja terhadap Kinerja Karyawan PT. Perkebunan Minanga Ogan Baturaja?

D. MANFAAT PENELITIAN
 
1.Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat memperkaya penelitian dibidang psikologi terutama berkaitan dengan stres kerja dan motivasi kerja.Selain itu, diharapkan penelitian ini juga dapat menjadi bahan pertimbangan bagi penelitian-penelitian selanjutnya.
2. Manfaat Praktis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang manfaat stress kerja dan motivasi kerja bagi kehidupan terutama pada kinerja karyawan PT. Perkebunan Minanga Oban Baturaja.


BAB II
KAJIAN PUSTAKA


     Kerangka Teori
Stres Kerja


   1. Stres Kerja
Meskipun terdapat berbagai defenisi dan perdebatan menganai pengertian stres kerja, (Luthans, 2006; 440) mendefinisikan stres adalah ”interaksi individu dengan lingkungan,” tetapi kemudian mereka memperinci defenisi sebagai berikut: ”respon adaptif yang dihubungkan oleh perbedaan individu dan atau proses psikologi yang merupakan konsekuwensi tindakan, situasi, atau kejadian eksternal (lingkungan) yang menenpatkan tuntutan psikologis dan atau fisik yang berlebihan pada seseorang.”
  2. Motivasi Kerja
Pada dasarnya motivasi dapat memacu karyawan untuk bekerja keras sehingga dapat mencapai tujuan mereka. Hal ini akan meningkatkan produktivitas kerja karyawan sehingga berpengaruh pada pencapaian tujuan perusahaan. Menurut Veithzal (2009: 838) ada tiga faktor sumber motivasi, yakni:
1)  Kemungkinan untuk berkembang.
2)  Jenis Pekerjaan.
3) Apakah mereka dapat merasa bangga menjadi bagian dari perusahaan ditempat mereka bekerja.
3. Kinerja Karyawan
Pada dasarnya, penilaian kerja merupakan faktor kunci dalam mengembangkan suatu organisasi secara efektif dan efisien karena adanya kebijakan atau program yang lebih baik atas sumber daya manusia yang ada dalam organisasi, (Umam, 2010: 190). Penilaian kinerja individu sangat bermanfaat bagi dinamika pertumbuhan organisasi secara keseluruhan, melalui penilaian tersebut, kondisi kinerja karyawan dapat diketahui. 
4. Hubungan Stres Kerja dan Kinerja Karyawan
Higgins (Umar, 2000: 259) berpendapat bahwa terdapat hubungan langsung antara stres kerja dan kinerja karyawan, sejumlah besar penelitian telah menyelidiki pengaruh stres kerja dengan kinerja disajikan dalam model stres– kinerja (hubungan U terbalik) yakni hukum Yerkes Podson (Mas’ud, 2002: 20). Pola U terbalik tesebut menunjukkan pengaruh tingkat stres (rendah – tinggi) dan kinerja (rendah – tinggi). Bila tidak ada stres, tantangan kerja juga tidak ada dan kinerja cenderung menurun. Rangsangan yang terlalu kecil, tuntutan dan tantangan yang terlampau sedikit dapat menyebakan kebosanan, frustasi, dan perasaan bahwa kita tidak sedang menggunakan kemampuan – kemampuan kita secara penuh (Looker, 2005: 144).
Sejalan dengan meningkatnya stres, kinerja cendrung naik, karena stres membantu karyawan untuk mengarahkan segala sumber daya dalam memenuhi kebutuhan kerja, adalah suatu rangsangan sehat yang mendorong para karyawan untuk menanggapi tantangan pekerjaan. Akhirnya stres mencapai titik stabil yang kira – kira sesuai dengan kemampuan prestasi karyawan. Selanjutnya bila stres manjadi terlalu besar, kinerja akan mulai menurun karena stres mengganggu pelaksanaan pekerjaan. Karyawan kehilangan kemampuan untuk mengendalikannya. Akibat yang paling ekstrem adalah kinerja menjadi nol, karyawan menjadi tidak kuat lagi bekerja, putus asa, keluar atau menolak bekerja untuk menghindari stres.
5. Hubungan Motivasi Kerja dan Kinerja Karyawan
Motivasi adalah dorongan yang tumbuh dalam diri seseorang, baik yang berasal dari dalam maupun dari luar dirinya untuk melakukan suatu pekerjaan dengan semangat tinggi, menggunakan semua kemampuan dan keterampilan yang dimilikinya. Untuk dapat memberikan hasil kerja yang berkualitas dan berkuantitas maka seorang karyawan membutuhkan motivasi kerja dalam dirinya yang akan berpengaruh terhadap semangat kerja sehingga dapat meningkatkan kinerja.


Menurut Handoko (2002: 252), motivasi adalah keadaan dalam pribadi seseorang yang mendorong keinginan individu melakukan kegiatan-kegiatan tertentu untuk mencapai tujuan. Sedangkan menurut Buhler (2004: 191) memberikan pendapat tentang pentingnya motivasi sebagai berikut: ”Motivasi pada dasarnya adalah proses yang menentukan seberapa banyak usaha yang akan dicurahkan untuk melaksanakan pekerjaan”. Motivasi atau dorongan untuk bekerja ini sangat menentukan bagi tercapainya suatu tujuan, maka manusia harus dapat menumbuhkan motivasi kerja setinggi–tingginya bagi para karyawan dalam perusahaan.

Motivasi erat kaitannya dengan timbulnya suatu kecenderungan untk berbuatsesuatu guna mencapai tujuan. Ada hubungan yang kuat antara kebutuhan motivasi, perbuatan atau tingkah laku, tujuan dan kepuasan serja kinerja. Karena setiap perubahan senantiasa berkat adanya dorongan motivasi. Motivasi timbul karena adanya suatu kebutuhan dan karenanya perbuatan tersebut terarah pencapaian tujuan tertentu yang pada akhirnya disebut sebagai kinerja karyawan. Jadi, Semakin kuat motivasi atau dorongan yang diberikan oleh pimpinan kepada karyawan maka akan semakin maksimal kinerja yang dihasilkan oleh karyawan itu sendiri.



BAB III
METODOLOGI


 A. Tahap Penelitian

Penelitian ini menggunakan tipe eksplanatory, yaitu suatu penelitian yang menerangkan pengaruh stress kerja, motivasi kerja terhadap kinerja karyawan serta tipe penelitian asosiatif karena menjelaskan hubungan antara stress kerja, motivasi kerja dengan kinerja karyawan.
Popualasi dalam penelitia ini adalah seluruh karyawan PT. Perkebunan Mianga Ogan Baturaja yang berjumlah 335 orang dan karyawan ini akan dipilih secara acak dalam penelitian ini (studi populasi). Sampel penelitian ini berjumlah 78 orang. Metode sampling yang digunakan adalah Proporsional stratified random sampling, yaitu pengambilan sampel dengan cara membagi populasi ke dalam kelompok-kelompok yang homogeny yang disebut strata, dan kemudian sampel diambil secara acak dari setiap strata tersebut.
 B. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, kuesioner dan studi pustaka. Teknik pengolahan data dengan editing dan tabulasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis statistic deskriptif (untuk menganalisis data dengan cara mendeskripsikan atau memaparkan data yag telah terkumpul dalam penelitian sesuai dengan kondisi yang ada) dan analisis statistic untuk menganalisis data sampel yang hasilnya akan diberlakukan untuk populasi.
C.  Hasil Penelitian
Dalam penelitian ini, hipotesis yang diuji adalah:
            Stres Kerja dan Motivasi Kerja berpengaruh secara parsial terhadap Kinerja 
Karyawan PT. Perkebunan Minanga Ogan Baturaja.
               Stres Kerja dan Motivasi Kerja berpengaruh secara simultan terhadap Kinerja 
Karyawan PT. Perkebunan Minanga Ogan Baturaja.
3      Stres Kerja lebih berpengaruh dari pada Motivasi Kerja terhadap Kinerja 
Karyawan PT. Perkebunan Minanga Ogan Baturaja.

DAFTAR PUSTAKA

Chua Bee Seok, 2004. Stres Pekerjaan, Kepuasan Kerja, Masalah Kesihatan Mental dan Strategi Daya Tindak (Suatu Kajian dikalangan Guru Sekolah di Kota Kinabalu. Jurnal Teknologi, 1 – 18. Sabah: Universitas Teknologi Malaysia.

Margiati Lulus, 1999. Stres Kerja: Latar Belakang Penyebab dan Alternatif Pemecahannya. Jurnal Masyarakat, Kebudayaan dan Politik, 3: 71-80. Surabaya: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga.

Dwiyanti Endang, 2001. Stres Kerja dilingkungan DPRD: Studi Tentang   AnggotaDPRD di Kota Surabaya, Malang, dan Kabupaten Jember. Jurnal Masyarakat, Kebudayaan dan Politik, 3 : 73-84. Surabaya: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga.

Fawzi Indra Lestari, 2002. Stres Kerja Pada Programmer Komputer dilingkungan Kerja Bank. Jurnal Makalah disajikan dalam SeminarAsosiasi Psikologi Industri dan Organisasi di Universitas Airlangga Surabaya.

Mulyono, dkk, 2001. Stres Psikososial pada Pekerja Wanita Status Kawin di PT.   Tulus Tritunggal Gresik. Jurnal Penelitian Dinamika Sosial, 2: 12-18. Surabaya: Fakultas Psikologi Universitas Airlangga.

Stress Kerja



STRES KERJA

 
DISUSUN OLEH
KELOMPOK :

                                                             Yenti Astuti                : 175112804
                                                                                                             Fanni Juliyani             : 12512750 
                                                      Lulu Yolanda Syifa      : 14512271
                                                            Revina Astrid G.W     : 16512171
                                                            Rini Tri Andriani         : 16512827
                                                                                                            Sanny Marsheila        : 16512414


    
            Definisi Stres

Stres kerja adalah suatu perasaan yang menekan atau rasa tertekan yang dialami karyawan dalam menghadapi pekerjaannya (Anwar Prabu, 1993: 93).
Beehr dan Franz (dikutip Bambang Tarupolo, 2002:17), mendefinisikan stres kerja sebagai suatu proses yang menyebabkan orang merasa sakit, tidak nyaman atau tegang karena pekerjaan, tempat kerja atau situasi kerja yang tertentu.
Menurut Pandji Anoraga (2001:108),stres kerja adalah suatu bentuk tanggapan seseorang, baik fisik maupun mental terhadap suatu perubahan dilingkunganya yang dirasakan mengganggu dan mengakibatkan dirinya terancam.
Gibson dkk (1996:339), menyatakan bahwa stres kerja adalah suatu tanggapan penyesuaian diperantarai oleh perbedaan-perbedaan individu dan atau proses psikologis yang merupakan suatu konsekuensi dari setiap tindakan dari luar (lingkungan), situasi, atau peristiwa yang menetapkan permintaan psikologis dan atau fisik berlebihan kepada seseorang.  
 Sumber Stres
Sumber stres kerja menurut Carry Cooper (dikutip Jacinta F, 2002) ada 4 yaitu:

1) Kondisi pekerjaan, meliputi:

       Kondisi kerja yang buruk berpotensi menjadi penyebab karyawan mudah jatuh sakit, jika ruangan tidak nyaman, panas, sirkulasi udara kurang memadahi, ruangan kerja terlalu padat, lingkungan kerja kurang bersih, berisik, tentu besar pengaruhnya pada kenyamanan kerja karyawan.
       Overload. Overload dapat dibedakan secara kuantitatif dan kualitatif. Dikatakan overload secara kuantitatif jika banyaknya pekerjaan yang ditargetkan melebihi kapasitas karyawan tersebut. Akibatnya karyawan tersebut mudah lelah dan berada dalam tegangan tinggi. Overload secara kualitatif bila pekerjaan tersebut sangat kompleks dan sulit sehingga menyita kemampuan karyawan.
       Deprivational stres. Kondisi pekerjaan tidak lagi menantang, atau tidak lagi menarik bagi karyawan. Biasanya keluhan yang muncul adalah kebosanan, ketidakpuasan, atau pekerjaan tersebut kurang mengandung unsur sosial (kurangnya komunikasi sosial).
       Pekerjaan beresiko tinggi. Pekerjaan yang beresiko tinggi atau berbahaya bagi keselamatan, seperti pekerjaan di pertambangan minyak lepas pantai, tentara, dan sebagainya.

2) Konflik peran: Stres karena ketidakjelasan peran dalam bekerja dan tidak tahu yang diharapkan oleh manajemen. Akibatnya sering muncul ketidakpuasan kerja, ketegangan, menurunnya prestasi hingga ahirnya timbul keinginan untuk meninggalkan pekerjaan.Para wanita yang bekerja mengalami stres lebih tinggi dibandingkan dengan pria. Masalahnya wanita bekerja ini menghadapi konflik peran sebagai wanita karir sekaligus ibu rumah tangga.


3) Pengembangan karir: Setiap orang pasti punya harapan ketika mulai bekerja di suatu perusahaan atau organisasi. Namun cita-cita dan perkembangan karir banyak sekali yang tidak terlaksana.

4) Struktur organisasi: Gambaran perusahaan yang diwarnai dengan struktur organisasi yang tidak jelas, kurangnya kejelasan mengenai jabatan, peran, wewenang dan tanggung jawab, aturan main yang terlalu kaku atau tidak jelas, iklim politik perusahaan yang tidak jelas serta minimnya keterlibatan atasan membuat karyawan menjadi stres.
         
                         Manajemen Stres

Manajemen stres adalah kemampuan penggunaan sumber daya(manusia) secara efektif untuk mengatasi gangguan atau kekacauan mental dan emosional yang muncul karena tanggapan (respon).Tujuan dari manajemen stres itu sendiri adalah untuk memperbaiki kualitas hidup individu itu agar menjadi lebih baik.
Strategi: Goliszek (2005) menyatakan bahwa usaha untuk memecahkan kebiasaan stres sehingga kualitas hidup menjadi lebih baik dengan:
  mempelajari apa itu gila
  mengenali gejala stres yang terjadi dalam diri
  mengubah pola perilaku
  memanfaatkan serangkaian teknik dan relaksasi dari manajemen stres yang cepat dan sederhana
   
             Pendekatan Stres

  • Pendekatan Individu:
  1. Meningkatkan Keimanan
  2. Melakukan kegiatan olahraga
  3. Melakukan relaksasi
  4. Dukungan sosial dari teman dan keluarga
  5. Menghindari kebiasaan rutin yang membosankan
·         Pendekatan Perusahaan:
a    
                          Perbaikan iklim organisasi
  1. Perbaikan lingkungan fisik
  2. Menyediakan sarana olahraga
  3. Melakukan analisis dan kejelasan tugas
  4. Meningkatkan partisipasi pegawai dlm pengambilan keputusan
  5. Melakukan restrukturisasi tugas pegawai